Membaca dan menulis adalah 'napas' bagi siapa saja yang berkecimpung di dunia literasi. Namun di balik tumpukan gagasan dan deretan alinea yang berhasil dirangkai di layar persegi, ada harga yang sering kali dibayar tanpa sadar: mata lelah. Sebelum ide selesai dituangkan, rasa sepat dan perih kerap datang menyerang. Inilah momen ketika gejala mata SePeLe (Sepat, Perih, Lelah) mulai menyapa dan tak boleh lagi kita abaikan
Banyak orang beranggapan bahwa orang-orang yang berada di FLP pasti orangnya kaku yang berjibaku dengan buku. Namun faktanya ketika masuk ke dalam kepengurusan FLP itu sendiri. Orang-orangnya berasal dari berbagai bidang keahlian. Ada si ahli desain yang fokus pada mengerjakan desain flyer dan sejenisnya secara on the spot. Ada si tukang konten kreator yang berjibaku dengan editing footage. Ada pula si penulis caption hingga fokus editing copy writer.
Dua kesamaan yang tak jauh dari orang-orang FLP, yaitu membaca dan menulis.
Membaca Bagaikan Teko yang Akan Mengisi Kualitas Tulisan
Meski dalam kepenulisan selalu digaungkan mulai aja dulu, revisi belakangan. Namun apalah daya bila tulisan minim akan pengetahuan itu sendiri.
Maka sebelum bisa menuangkan gagasan, pemikiran, dan ide itu sendiri. Membaca menjadi langkah awal dalam menyajikan tulisan.
Begitupun dalam arahan Sang Pencipta. Tak pula disebut 'menulislah' supaya dada yang sesak itu menjadi lapang. Melainkan, 'Iqra' yang artinya 'bacalah'. Tak lupa pula menyebut 'bismirabbikalladzii khalaq' yang artinya 'dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan'. Meskipun baginda Nabi Muhammad Saw kala itu tidak bisa membaca. Bahkan tidak bisa sekalipun dipaksa coba sampai tiga kali.
Membaca inilah sebagai tonggak bahwa urgensinya lebih penting sebelum menerima banyak hal. Khazanah dalam membaca membuka tabir tak terkira. Bisa menembus waktu menerima pembelajaran orang-orang terdahulu hanya melalui tulisan.
Beberapa orang pun memiliki kecepatan dan ketahanan yang berbeda-beda. Ada yang beberapa lembar langsung merasa ngantuk. Ada pula yang mampu berjam-jam sampai lupa waktu dan tiba-tiba mata kering.
Tulisan yang Lahir dari Banyaknya Membaca Lebih Cepat Ditulis
Persoalan menulis, memang lebih cepat saat pengetahuan sudah ada dalam isi kepala. Hanya butuh waktu dan ketenangan untuk mengeluarkan segala ide-ide yang mengudara. Meskipun begitu, ada pula penulis pemula yang dipaksakan untuk menulis dan berakhir begitu lama di depan laptop.
Bahkan dalam menuangkan gagasan, perlunya validasi, drafting dan revisi ulang berkali-kali. Hanya demi memastikan tidak ada kesalahan tanda baca.
Proses di depan layar persegi pun membutuhkan waktu yang lama sehingga seringkali bila lupa, mata yang lelah menjadi alarm untuk menunda pekerjaan.
Mata Kering, Satu Benang Merah yang Serupa
Baik membaca maupun menulis. Keduanya memiliki kesamaan yang serupa, yaitu menggunakan mata dalam mengerjakannya. Bagian dari tubuh yang bekerja lebih ekstra sebelum menyampaikan informasi dan memberikan informai melalui otak.
Meskipun begitu, seringkali indikator mata yang lelah menjadi alarm buat diri bahwa pekerjaan ini harus diistirahatkan dulu. Padahal, menurut penelitian bahwa jarak fokus, kenyamanan, dan durasi di layar persegi bisa diistirahatkan terlebih dahulu supaya kerja bisa lebih optimal dan efisien.
Jangankan manusia, robot pun bila terus-terusan dipakai akan rusak. Meskipun hanya persoalan mata, tapi ini pekara #MataSepeleJanganSepelein sedari awal.
Jeda, Strategi Mengumpulkan Energi dan Mengistirahatkan Mata
Seringkali pada saat diri benar-benar lelah melihat layar persegi. Mata refleks memejamkan mata dengan sendirinya. Padahal, cara yang efektif menurut penelitian metode 20-20-20 lebih baik dibandingkan harus memaksakan diri pada di tahap mentok kelelahan dalam melihat.
Arti 20-20-20 adalah dengan mengalihkan pandangan setiap 20 menit sekali selama 20 detik ke arah 20 kaki yang setara dengan 6 meter.
Sebuah waktu yang tidak begitu cepat dan tidak pula lama. Sebuah tips yang disebut sebagai kata ideal.
Lelah dan penat kadang menjadi satu. Bila berada di fase yang seperti itu, melihat yang hijau-hijau seperti tanaman dan pepohonan akan membuat pemandangan menjadi lebih sejuk dan damai. Sama yang dilakukan baginda Nabi, selalu melihat pepohonan hijau untuk mengisitirahatkan mata.
Insto Dry Eyes Sebagai Jaga-Jaga Solusi Mata Kering
Momen lalai memang tidak ada dalam kalender. Saat banyak pikiran dan ambisi dalam menuntaskan segera itu hadir. Mata sudah telanjur SePeLe yang artinya Sepat, Perih, dan Lelah. Saking sakitnya bahkan tidak mampu membuka kelopak mata.
#InstoDryEyes yang merupakan spesialias obat mata sejak zaman dulu, kini memiliki trobosan baru khusus mata kering karena kelamaan menatap layar. Sehingga pengguna tidak perlu khawatir mata akan iritasi yang membuat #BebasMataKering.
Dry Insto bukan hanya ada di apotek saja, tapi kini hadir di mitra yang mudah didapat seperti Alfamart, Alfamidi, dan Indomaret. Strategi marketing yang solutif buat orang mageran ke apotek dan lebih suka ngadem sembari berpikir lama.
Jaga Asupan Diri Tetap Optimal
Selain mata kering ada solusinya tersendiri. Bagaimana menjaga pandangan tetap normal dan cerah adalah dengan menutrusi dari dalam. Buat orang yang suka lupa minum air putih. Jangan lupa selalu ada tumbler atau minuman yang berisi air minum di dekat diri. Supaya diri pun saat radar-radar lelah akan membidik air lebih dulu pada saat istirahat. Selain itu, bisa mencegah diri dari yang namanya penyakit ginjal.
Begitupun untuk menjaga mata tetap cerah penglihatan adalah dengan sering-sering makan-makanan yang kaya akan vitamin A terutama pada wortel. Bisa dibuat sup, dipadukan dengan jus, dan olahan lainnya.
Posisi Nyaman Selalu Menentukan Tingkat Produktivitas
Akan berbeda rasanya berada di tempat yang kondusif dengan tidak kondusif. Bagi kerja kantoran akan memiliki ruang khusus tersendiri. Bagi yang kerjanya nomaden seperti freelancer atau para anggota FLP sedang ada tugas menulis dan membaca. Seringkali berpindah-pindah tempat selalu menjadi pertimbangan tersendiri untuk memutuskan tempat produktivitas.
Termasuk pemilihan gelap terang layar dengan kontras akan selalu dipertimbangkan. Saat minim cahaya, kontras diturunkan. Saat banyak cahaya seperti siang hari kontras dinaikkan supaya mata lebih mudah melihat.
Indikatornya adalah posisi nyaman dilihat dengan pencahayaan yang cukup.
FLP Tidak Hanya Membersamai di Dunia Virtual Belaka
Sebelum keberadaan digitalisasi yang masif seperti sekarang ini. FLPSU dulunya punya rumah cahaya yang bisa didatangi anggotanya untuk tempat bertumbuh dan berbagi. Selain disediakan buku, juga sering pula diadakan pertemuan diskusi untuk belajar banyak hal seputaran di dunia literasi.
Seringkali event bazar buku tertentu dan long weekend di tanggal khusus menjadi suatu momentum bahwa para FLPers cocok nih untuk diadakan pertemuan. Seperti pertemuan di toko buku dengan stasiun KA enceritakan bacaan buku masing-masing menjadi jalan khazanah genre topik buku-buku lainnya Tadinya yang tidak suka menjadi suka dengan genre buku lainnya. Sehingga menambah semangat pula dalam membaca.
Pertemuan offline dalam kegiatan Tukang bulanan pun di FLPSU sering pula diundang orang-orang produktif yang dipercayai mampu membangkitkan semangat produktivitas dan membuat anggota lainnya insyaf untuk menulis kembali. Sehingga lagi-lagi durasi dalam menggunakan mata untuk produktivitas lebih lama.
Perjalanan literasi ibarat sebuah jihad yang harus dibersamai. Bila sendirian terasa berat untuk membangkitkan semangat diri, bila bersama-sama pun akan terasa ringan dan semangat terus konsisten.
Para FLPSU Menjadi Teman Ramah dengan Dry Insto
Adanya permasalahan yang sering dialami oleh para anggota membuat kehadiran Dry Insto ini menjadi simbol kedekatan yang tak jauh. Bahkan bisa pula dijadikan sebagai ide topik pembicaraan. Berawal dari produk tetes mata untuk mengatasi mata kering, menjadi sebuah cerita sendiri yang asyik untuk dijdikan sebagai ide cerita. Baik itu cerpen maupun artikel.
Referensi
American Optimetric Associaton. Sindrom Penglihatan Komputer. Diakses tanggal 20 Agustus 2026 dari https://www.aoa.org/healthy-eyes/eye-and-vision-conditions/computer-vision-syndrome
Ditulis oleh Harumpuspita
.png)



Kalau masa doeloe tantangan baca lama-lama itu tetap sama ya kan dengan masa kini, pastinya mata. Bedanya, kini nambah lagi ada layar yang punya radiasi ke bola mata, tapi ya tetap aja frekuensi melek matanya jadi lebih lama. Dan gak cuma baca aja, nonton,, kerja, bahkan leteh-leyeh pun sambil matanya di "siksa"ðŸ¤
BalasHapusPara readers n writers ehmmm pasti pernah ngalamin gejala mata kering. Insto dh paling bener lah
BalasHapus