Cahaya Penerang Gulitamu
FLP Sumatra Utara
FLP Sumatra Utara

Puisi-puisi karya Jaka Satria Pasaribu

Suara Arambahari


suatu senja yang mengintai mata kail di sudut bibir, meracau pada riak riak matamu yang kian pasi. ring jaring tersangkut di celah celah palung kima, yang akhirnya harus menjelma lokan lokan kecil di pinggir pantai -yang sering kau kutip bawa pulang sebagai lauk hari ini- hingga kuku kuku kakiku berlumpur campur darah. 


hijau hingga biru yang kita arungi di atas biduk ayah -yang kutarik paksa dari ikatan petuahnya- terombang ambing dibawa angin yang terus menerjang. sesekali kita karam di perselisihan makna, lalu orang orang menjerba dengan segala diksi yang memuakkan di telinga.


suatu ketika bibirmu pecah pecah dilumat gerah. kucoba menjeremba segelas air putih yang hampir jatuh di meja makan. tapi kau langsung berkata galgah pada tubuhku yang basah. pikiran malam membawa bintang tenggelam di bawah kapal, lalu bulan berganti ikan. tangkapan nelayan berupa udang kecil kubawa pulang ditanak bersama harapan.


air mata dan air asin bercampur dalam tanak nasi yang kita lahap setiap hari. lelahnya camar hinggap di tubuh nyiur yang makin bungkuk, dan kita masih saja mengusik ombak yang berisik. bintang di pantai dan bintang di langit saling pandang. tanpa tanda tanya, pun tanpa sapa.


setelah sekian lama kita tak pernah lagi mencecah friksi pada buritan biduk kecil ini, bait bait doa yang kita simpul menjadi cuaca paling tenang dalam riak pelayaran. meski damar menjadi bekas memar dari badai yang mengejar. namun, si buyung yang sedang berenang menjadi obat luka yang kian hilang.


di sudut pandang, kita masih menyaksikan satu persatu Pincalang terbenam bersama zaman.


November 2025




Ketukan Pintu Rumah


ada yang mengetuk pintu rumahku berkali-kali

barangkali hanya penagih janji

sejak aku duduk di kursi yang mereka beri

padahal kursi itu kubeli dengan harga diri dan malu


lagi lagi pintu rumahku diketuk

kali ini mereka mengetuk gagang pintu

tanpa mereka ketahui aku telah menggantinya

dengan harapan kehidupan semu; 

pekerjaan, kemakmuran, kekenyangan, kebodohan


mereka menganggapku sebagai wayang 

bisa dimainkan saat butuh pertunjukan

sedangkan di kursi penonton 

aku sedang asik menenggak segelas kopi

dengan segala hidangan istimewa,

aku telah membayar semua dengan lunas

dalam amplop yang terkunci di perut orang-orang lapar


September 2026




Kuartikan Aku Pada Tubuhku


kuartikan aku pada tubuhku lalu menjadi Hasyim Asy’ari

menggaungkan agama menjelma aku semakin Abu

kuartikan aku pada tubuhku menjadi Ahmad Dahlan

mendirikan tempat belajar, menyatukan aku/ilmu/agama

kuartikan aku pada tubuhku menjadi Dewi Sartika

agar aku menjadi perempuan penuh keterampilan, keahlian

sekaligus ibu dari dua ratus sembilan puluh juta anak

kuartikan aku pada tubuhku menjadi R.A Kartini

sekali lagi, agar aku tetap menjadi perempuan yang berwibawa

dengan kuasa dan pandangan hidup yang setara

kuartikan aku pada tubuhku menjadi Ki Hadjar Dewantara

agar aku menjadi Ing ngarsa sung tuladha

Ing madya mangun karsa

Tut wuri handayani

kuartikan aku pada tubuhku menjadi aku

aku menjadi kaku pada aturan yang kering

menelan sisa buih pada mulut yang berjanji


September 2026



Posting Komentar