Suara Arambahari
suatu senja yang mengintai mata kail di sudut bibir, meracau pada riak riak matamu yang kian pasi. ring jaring tersangkut di celah celah palung kima, yang akhirnya harus menjelma lokan lokan kecil di pinggir pantai -yang sering kau kutip bawa pulang sebagai lauk hari ini- hingga kuku kuku kakiku berlumpur campur darah.
hijau hingga biru yang kita arungi di atas biduk ayah -yang kutarik paksa dari ikatan petuahnya- terombang ambing dibawa angin yang terus menerjang. sesekali kita karam di perselisihan makna, lalu orang orang menjerba dengan segala diksi yang memuakkan di telinga.
suatu ketika bibirmu pecah pecah dilumat gerah. kucoba menjeremba segelas air putih yang hampir jatuh di meja makan. tapi kau langsung berkata galgah pada tubuhku yang basah. pikiran malam membawa bintang tenggelam di bawah kapal, lalu bulan berganti ikan. tangkapan nelayan berupa udang kecil kubawa pulang ditanak bersama harapan.
air mata dan air asin bercampur dalam tanak nasi yang kita lahap setiap hari. lelahnya camar hinggap di tubuh nyiur yang makin bungkuk, dan kita masih saja mengusik ombak yang berisik. bintang di pantai dan bintang di langit saling pandang. tanpa tanda tanya, pun tanpa sapa.
setelah sekian lama kita tak pernah lagi mencecah friksi pada buritan biduk kecil ini, bait bait doa yang kita simpul menjadi cuaca paling tenang dalam riak pelayaran. meski damar menjadi bekas memar dari badai yang mengejar. namun, si buyung yang sedang berenang menjadi obat luka yang kian hilang.
di sudut pandang, kita masih menyaksikan satu persatu Pincalang terbenam bersama zaman.
November 2025
Ketukan Pintu Rumah
ada yang mengetuk pintu rumahku berkali-kali
barangkali hanya penagih janji
sejak aku duduk di kursi yang mereka beri
padahal kursi itu kubeli dengan harga diri dan malu
lagi lagi pintu rumahku diketuk
kali ini mereka mengetuk gagang pintu
tanpa mereka ketahui aku telah menggantinya
dengan harapan kehidupan semu;
pekerjaan, kemakmuran, kekenyangan, kebodohan
mereka menganggapku sebagai wayang
bisa dimainkan saat butuh pertunjukan
sedangkan di kursi penonton
aku sedang asik menenggak segelas kopi
dengan segala hidangan istimewa,
aku telah membayar semua dengan lunas
dalam amplop yang terkunci di perut orang-orang lapar
September 2026
Kuartikan Aku Pada Tubuhku
kuartikan aku pada tubuhku lalu menjadi Hasyim Asy’ari
menggaungkan agama menjelma aku semakin Abu
kuartikan aku pada tubuhku menjadi Ahmad Dahlan
mendirikan tempat belajar, menyatukan aku/ilmu/agama
kuartikan aku pada tubuhku menjadi Dewi Sartika
agar aku menjadi perempuan penuh keterampilan, keahlian
sekaligus ibu dari dua ratus sembilan puluh juta anak
kuartikan aku pada tubuhku menjadi R.A Kartini
sekali lagi, agar aku tetap menjadi perempuan yang berwibawa
dengan kuasa dan pandangan hidup yang setara
kuartikan aku pada tubuhku menjadi Ki Hadjar Dewantara
agar aku menjadi Ing ngarsa sung tuladha
Ing madya mangun karsa
Tut wuri handayani
kuartikan aku pada tubuhku menjadi aku
aku menjadi kaku pada aturan yang kering
menelan sisa buih pada mulut yang berjanji
September 2026
.png)


Posting Komentar