Pada bulan Agustus lalu, saya berkesempatan mengikuti sebuah lokakarya penulisan cerpen yang di selenggarakan oleh Komunitas Ngobrol Buku Indonesia. Kegiatan yang bertajuk "Menghidupkan Cerita Rakyat untuk Pembaca Modern" ini dilaksanakan selama tiga hari pada 28–30 Agustus 2026 di Ruang Galeri lantai 2, Roha Cafe, Jalan Abdullah Lubis, Kota Medan. Kegiatan ini diikuti oleh 45 peserta terpilih yang dibagi dalam tiga kategori; pelajar, mahasiswa, dan umum.
Menurut Ketua Panitia Pelaksana, Alda Muhsi, panitia menerima sekurangnya 100 naskah cerpen calon peserta selama masa pengumpulan naskah pada 1-18 Agustus. Tim panitia kemudian menyeleksi naskah tersebut dan menetapkan 45 orang peserta yang akan mengikuti lokakarya.
Ketua Komunitas Ngobrol Buku, Eka Dalanta, dalam sambutannya mengatakan festival ini diharapkan dapat mendorong lahirnya penulis baru yang menjadikan cerita rakyat dan folklor sebagai sumber inspirasi sekaligus upaya meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal.
Kegiatan ini menghadirkan dua sastrawan dan penulis nasional, yakni Koko Hendri Lubis dan Yusi Avianto Pareanom, sebagai narasumber. Selama kegiatan peserta tidak hanya dilatih bagaimana menggali nilai-nilai lokal dalam cerita rakyat yang tumbuh di tengah masyarakat, khususnya Sumatera Utara, untuk kemudian diadaptasi menjadi cerita bernuansa kekinian agar menarik pembaca modern, tetapi juga dilatih bagaimana teknik-teknik penulisan cerpen yang baik.
![]() |
| Sumber: Instagram @ngobrol.buku |
Hari pertama kegiatan, Koko Hendri Lubis memaparkan betapa banyaknya cerita rakyat di Sumatera Utara yang menjadi kekayan sumber ide untuk menulis. Cerita-cerita ini berkembang di tengah masyarakat dengan berbagai versinya sehingga penulis dapat mengeksplorasi lebih luas lagi tanpa mengurangi esensi nilai yang terkandung dalam cerita tersebut.
Hari kedua dan ketiga, peserta dilatih teknik-teknik penulisan cerpen oleh Yusi Avianto, mulai dari teknik penceritaan ulang, membangun alur cerita, penokohan, hingga sudut pandang bercerita. Bukan sekadar teori, peserta juga diberi tantangan untuk langsung menerapkan ilmu yang diperoleh dalam bentuk latihan dan tugas. Namun hal yang paling dasar sekali dilakukan oleh Yusi Avianto kepada para peserta adalah dengan melontarkan pertanyaan, “Untuk apa Anda menulis?”
Sebagai puncak rangkaian festival, 45 karya peserta lokakarya akan dibukukan dalam tiga antologi berdasarkan tiap-tiap kategori peserta. Antologi ini akan dibahas dalam diskusi sastra pada 25 September 2026 di Aula UNPRI Jalan Sampul, Kota Medan dan akan dihadiri praktisi dan akademisi Kota Medan dengan target peserta sebanyak 150 orang.
Ada beberapa pengetahuan baru yang saya dapat di kegiatan ini yang menurut saya membuka cara pandang saya terhadap penulisan cerita. Yang pertama tentang cerpen; ketika menentukan karakter tokoh, haruslah manusiawi. Pendalaman karakternya bisa dilakukan dengan menjawab pertanyaan misalnya apa yang ditakuti tokoh, apa yang paling diinginkannya.
Lalu yang kedua tentang teknik penceritaan ulang folklor; dengan cara mengubah sudut pandang penceritaan. Misal cerita Legenda Danau Toba ditulis dari sudut pandang anaknya.
Saya sangat berterima kasih kepada penyelenggara yang telah memberikan saya kesempatan untuk mengikuti lokakarya ini. Semoga ilmu dan pengalaman yang dibagikan bisa diterapkan oleh para peserta, terutama oleh saya sendiri, sehingga kepedulian masyarakat terhadap pelestarian budaya lokal kian meningkat.
Ditulis oleh Muhammad Abduh Putra Panjaitan
.png)



Posting Komentar